Sabtu, 15 November 2014

PERKEMBANGAN SEJARAH SENI RUPA DI INDONESIA



1.             http://5enibudaya.files.wordpress.com/2012/09/0009.jpeg?w=374&h=23340705_merpatikipas.jpg  Perkembangan Sejarah Seni Rupa Indonesia
          Sejarah memberi petunjuk kepada kita tentang terjadinya rentetan peristiwa pada zaman yang telah lampau, peristiwa-peristiwa itu mungkin memberikan gambaran yang tersambung secara terus menerus, tetapi juga mungkin secara terputus-putus terhadap segala kehidupan manusia dan hasil karya seninya di dunia. Oleh karena itu dari sejarah tersebut kita juga dapat mengetahui hasil-hasil budaya di masa lalu.
       
           Kajian sejarah seni rupa menunjuk bahwa seni rupa suatu bangsa tak dapat berkembang kalau tidak mendapat pengaruh dari luar. Perkembangannya selalu menunjukan sebagai suatu pertumbuhan dari awal kemudian tumbuh, akhirnya mencapai titik puncak atau dengan istilah seni klasik. Oleh karena itu di dunia ini tidak ada yang abadi, maka pencapaian puncak inipun akan mengalami saat terakhirnya, pada suatu saat akan mengalami kelahirannya kembali (renaisance). Jadi dapat dikatakan bahwa sejarah seni rupa adalah suatu catatan peristiwa terjadinya ciptaan seni visual dua atau tiga dimensional dari waktu ke waktu secara periodesasi.

A. SIFAT – SIFAT UMUM SENI RUPA INDONESIA

1.     Tradisional/statis: adanya kebudayaan agraris mengarah pada bentuk kesenian yang              berpegang   pada suatu kaidah yang turun temurun.
2.     Progresif: Adanya kebudayaan maritim. Kesenian Indonesia sering dipengaruhi kebudayaan luar yang kemudian di padukan dan dikembangkan sehingga menjadi milik bangsa Indonesia sendiri.
3.     Bersifat Kebinekaan: Indonesia terdiri dari beberapa daerah dengan keadaan lingkungan dan alam yang berbeda, sehingga melahirkan bentuk ungkapan seni yang beraneka ragam.
4.      Bersifat Seni Kerajinan: Kekayaan alam Indonesia yang menghasilkan bermacam – macam bahan untuk membuat kerajinan.
5.     Bersifat Non Realis: Latar belakang agama asli yang primitif berpengaruh pada ungkapan seni yang selalu bersifat perlambangan / simbolisme.

B. SENI RUPA PRASEJARAH INDONESIA

          Zaman prasejarah (Prehistory) adalah jaman sebelum ditemukan sumber–sumber atau dokumen–dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme)
Jaman prasejarah Indonesia terbagi atas: Jaman Batu dan Jaman Logam

1. Seni Rupa Zaman Batu
           Zaman batu terbagi lagi menjadi: Jaman batu tua (Palaeolithikum), Jaman batu menengah (Mesolithikum), Jaman batu muda (Neolithikum), kemudian berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman megalithikum (Batu Besar). Peninggalan–peninggalannya yaitu:

a. Seni Bangunan

          Manusia phaleolithikum belum memiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (non modern) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda–tanda adanya karya seni rupa dimulai dari zaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di go –goa
. Seperti goa yang ditemukan di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti–bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa–sisa sampah dapur para nelayan
Kemudian Zaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah–rumah kayu/bambu
Pada zaman megalithikum banyak menghasilkan bangunan–bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofaq, meja batu dan lain-lain
b. Seni Patung

      Seni patung berkembang pada jaman Neolithikum, berupa patung–patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian zaman megalithikum banyak ditemukan patung–patung berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural.
kih.jpegyj.jpeg
c. Seni Lukis

      Dari jaman Mesolithikum ditemukan lukisan–lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegang perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada jaman neolithikum dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan–bangunan dan benda–benda kerajinan sebagai hiasan ornamentik (motif geometris atau motif perlambang).
2. Seni Rupa zaman Logam

       zaman logam di Indonesia dikenal sebagai jaman perunggu, Karena banyak ditemukan benda – benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:

1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang

2) Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hany satu kali pakai (tidak bisa diulang)
ytyue.jpegaj.jpeg
C. SENI RUPA INDONESIA HINDU

      Kebudayaan Hindu berasal dari India yang menyebar di Indonesia sekitar abad pertama Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama dan politik. Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan istana dan feodal). Proses akulturasi kebudayan India dan Indonesia berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan proses:
a. Proses peniruan (imitasi)
b. Proses Penyesuaian (adaptasi)
c. Proses Penguasaan (kreasi)

1. Ciri–Ciri Seni Rupa Indonesia Hindu

a) Bersifat Peodal, yaitu kesenian berpusat di istana sebagai medi pengabdian Raja (kultus Raja)
b) Bersifat Sakral, yaitu kesenian sebagai media upacara agama
c) Bersifat Konvensional, yaitu kesenian yang bertolak pada suatu pedoman pada sumber hukum agama (Silfasastra)
d) Hasil akulturasi kebudayaan India dengan Indonesia

2. Karya Seni Rupa Indonesia Hindu

  a. Seni Bangunan:
     1) Bangunan Candi
            Candi berasala dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Dugra). Karenanya candi selalu dihubungkan dengan mnumen untuk memuliakan Raja yang meninggal contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati, selain itu candi pula berfungsi sebagai:
 Candi Stupa: didirikan sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur
Ø,
 Candi Pintu Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk
Ø, contohnya candi Bajang Ratu
 Candi Balai Kambang/Tirta: didirikan didekat/ditengah kolam, contoh candi Belahan
Ø
 Candi Pertapaan: didirikan di lereng–lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda
Ø
 Candi Vihara: didirikan untuk tempat
para pendeta bersemedhi contohnya candi SariØ
            Struktur bangunan candi terdiri dari 3 bagian
 Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk denahnya (berbentuk segi empat, bujur    sangkar atau segi 20)
Ø
 Tubuh candi. Terdapat kamar–kamar tempat arca atau patung
Ø
 Atap candi: berbentuk limas an, bermahkota stupa, lingga, ratna atau amalaka
Ø
Bangunan candi ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok. Ada dua system dalam pengelempokan candi, yaitu:
 Sistem Konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi berada
Ø di tengah–tengah anak–anak candi, contohnya kelompok candi lorojongrang dan prambanan
 Sistem membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia ) yaitu induk candi
Ø berada di belakang anak – anak candi, contohnya candi penataran.
 2) Bangunan pura
                    Pura adalah bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur yang banyak didirikan di Bali. Pura merupakan komplek bangunan yang disusun terdiri dari tiga halaman pengaruh dari candi penataran yaitu:
 Halaman depan terdapat balai pertemuan
Ø
 Halaman tengah terdapat balai saji
Ø
 Halaman belakang terdapat; meru, padmasana, dan rumah Dewa
Ø
Seluruh bangunan dikelilingi dinding keliling dengan pintu gerbangnya ada yang berpintu / bertutup (kori agung) ada yang terbuka ( candi bentar)
 Pura agung, didirikan di komplek istana
Ø
 Pura gunung, didirikan di lereng gunung tempat bersemedhi
Ø
 Pura subak, didirikan di daerah pesawahan
Ø
 Pura laut, didirikan di tepi pantai
Ø
  3) Bangunan Puri
                   Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusat keagamaan. Bangunan–bangunan yang terdapat di komplek puri antara lain: Tempat kepala keluarga (Semanggen), tempat upacara meratakan gigi (Balain Munde) dsb
b. Seni patung Hindu Budha
           Patung dalam agama Hindu merupakan hasil perwujudan dari Raja dengan Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti: Dewa Brahma Wisnu dan Siwa. Untuk membedakan mereka setiap patung diberi atribut keDewaan (laksana/ciri), misalnya patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan kendaraanhya (wahana) hangsa). Sedangkan pada patung wisnu laksananya adalah para mahkotanya terdapat bulan sabit, dan tengkorak, kendaraannya lembu, (nadi) dsb
Dalam agama Budha bisaa dipatungkan adalah sang Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa dan Dewi Tara. Setiap patung Budha memiliki tanda – tanda kesucian, yaitu:
 Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha)
Ø
 Diantara keningnya terdapat titik (urna)
Ø
 Telinganya panjang (lamba-karnapasa)
Ø
 Terdapat juga kerutan di leher
Ø
 Memakai jubah sanghati
Ø
c. Seni hias Hindu Budha
            Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa. Oleh sebab itu Candi selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu dengan motif flora dan fauna serta mahluk azaib.
      Bentuk hiasan candi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
    1) Hiasan Arsitektural ialah hiasan bersifat 3 dimensional yang membentuk struktur bangunan candi, contohnya:
 Hiasan mahkota pada atap candi
Ø
 Hisana menara sudut pada setiap candi
Ø
 Hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu
Ø
 Hiasan makara, simbar filaster,dll
Ø
    2) Hiasan bidang ialah hiasan bersifat dua dimensional yang terdapat pada dinding / bidang candi, contohnya;
 Hiasan dengan cerita, candi Hindu ialah Mahabarata dan Ramayana: sedangkan pada candi Budha adalah Jataka, Lalitapistara
Ø
Hiasan flora dan faunaØ
 Hiasan pola geometris
Ø
 Hiasan makhluk khayangan
Ø


3. Kronologis Sejarah Seni rupa Hindu Budha
         a. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Tengah, terbagi atas:
              1) Zaman Wangsa Sanjaya
    Candi – candi hanya didirikan di daerah pegunungan. Seni patungnya merupakan perwujudan      antara manusia dengan binatang (lembu atau garuda)
              2) Zaman Wangsa Syailendra
                  Peninggalan candinya : kelompok Candi Prambanan, Kelompok Candi Sewu, Candi Borobudur,       Candi Kalasan
, Candi Sari, Candi Mendut Dan Kelompok Candi Plaosan
Seni patungnya bersifat Budhis, contohnya patung Budha dan Budhisatwa di Candi Borobudur
       b. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Timur, terbagi atas:
           1) Jaman Peralihan
        Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda–tanda gaya seni jawa timur seperti       tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga
           2) Zaman Singasari
       Pada seni bangunannya sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi singosari, candi kidal, dan candi jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung Prajnaparamita, Bhairawa dan Ganesha.
            3) Jaman Majapahit
Candi–candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali / andhesit peninggalan candinya: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dan lain-lain.
                  Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan gaya klasik Jawa Tengah, melainkan gaya magis monumental yang lebih menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian batik dan perhiasan khas Indonesia. Selain patung dari batu juga dikelan patung realistic dari Terakotta (tanah liat) hasil pengaruh darin Campa dan China, contohnya patung wajah Gajah Mada
         c. Seni Rupa Bali Hindu
                Di Bali jarang ditemukan candi sebab masyarakatnya tidak mengenal Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah Pura dan Puri. Pura sebagai bangunan suci tetapi di dalamnya tidak terdapat patung perwujudan Dewa karena masyarakat Bali tidak mengenal an-Iconis yaitu tidak mengebal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung hanya sebagai hiasan saja.
    4. Perbedaan Gaya Seni Jawa Tengah Dengan Jawa Timur
         a. Perbedaan struktur bangunan candi
 Candi Jateng terbuat dari batu adhesit, sedangkan di Jatim terbuat dari batu bata
Ø
 Candi Jateng bentuknya tambun, sedangkan di Jatim bentuknya ramping
Ø
 Kaki candi Jateng tidak berundak sedangkan di Jatim berundak
Ø
 Atap candi Jateng pendek, sedangkan di Jatim lebih tinggi
Ø
 Kumpulan candi di Jateng dengan system konsentris, sedangkan di Jatim dengan sistem membelakangi
Ø
          b. Perbedaan pada seni patungnya
 Patung – patung di Jateng hanya sebagai perwujudan Dewa/Raja sedangkan di Jatim ada pula perwujudan manusia bisaa
Ø
 Seni patung Jateng bergaya simbolis realistis, sedangkan di Jatim
Ø jaman Singasari bergaya klasisitis dan jaman Majapahit bergaya magis monumental
 Prambandala (lingkaran kesaktian) pada patung Jateng terdapat pada
Ø bagian belakang kepala, sedangkan di Jatim terdapat di bagian belakang seluruh tubuh menyerupai lidah api
 Pakaian Raja / Dewa pada seni patung Jateng masih dipengaruhi tradisi
Ø India, sedangkan di Jatim khas Indonesia seperti pakaian batik, selendang dan ikat kepala
          c. Perbedaan hiasan candi
 Hiasan adegan cerita pada candi Jateng bergala realis, sedangkan di Jatim bergaya Wayang (distorsi)
Ø
 Adegan cerita pada candi Jateng hanya tentang Mahabarata dan Ramayana,
Ø sedangkan di Jatim ada pula adegan cerita asli Indonesia, misalnya cerita Panji
 Motif hias pada candi di Jateng bersifat Hindu dan Budha sedangkan di
Ø Jatim ada pula hias asli Indonesia sperti motif penawakan dan gunungan serta perlambangan
 Hiasan pada candi di Jatim lebih padat dan dipusatkan pada seni Cina seperti motif awan dan batu karang
Ø

D. SENI RUPA INDONESIA ISLAM
       
           Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M oleh para pedagang dari India, Persia dan Cina. Mereka menyebarkan ajaran Islam sekligus memperkenalkan kebudayaannya masing – masing, maka timbul akulturasi kebudayaan
Seni rupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di istana – istana sebagai media pengabdian kepada para penguasa (Raja/Sultan) kemudian dalam kaitannya dengan penyebaran agama Islam, para walipun berperan dalam mengembangkan seni di masyarakat pedesaan, misalnya da’wah Islam disampaikan dengan media seni wayang
1. Ciri – Ciri Seni Rupa Indonesia Islam
  a.     Bersifat feodal, yaitu kesenian yang bersifat di istana sebagai media pengabdian kepada Raja/sultan
  b.     Bersumber dari kesenian pra Islam (seni prasejarah dan seni Hindu Budha)
  c.      Berperan
2. Karya Seni Rupa Indonesia Islam
  a. Seni Bangunan
      1) Mesjid
      Pengaruh hindu tampak pada bagian atas mesjid yang berbentuk limas bersusun ganjil (seperti  atap Balai Pertemuan Hindu Bali), contohnya atap mesjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten
      2) Istana
      Istana / keraton berfungsi sebagai tempat tinggal Raja, pusat pemerintahan. Pusat kegiatan agama dan budaya. Komplek istana bisaanya didirikan di pusat kota yang dikelilingi oleh dinding keliling dan parit pertahanan.
      3) Makam
     Arsitektur makam orang muslimin di Indonesia merupakan hasil pengaruh dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah tampak pada bentuk makam seperti punden berundak. Sedangkan pengaruh hindu tampak pada nisannya yang diberi hiasan motif gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat India yaitu pada makam yang beratap sungkup
b. Seni Kaligrafi
             Seni kaligrafi atau seni khat adalah seni tulisan indah. Dalam kesenian Islam menggunakan bahasa arab. Sebagai bentuk simbolis dari rangkaian ayat–ayat suci Al – Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi, yaitu:
1)   Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan
2)   Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar
3)   Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan seperti kaligrafi karya AD. Pireus
gyhuyr.jpeg               dan Ahmad Sadeli
c. Seni Hias
         Seni hias islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup secara realis, maka untuk penyamarannya dibuatkan stilasinya (digayakan) atau diformasi (disederhanakan) dengan bentuk tumbuh – tumbuhan



E. SENI RUPA INDONESI MODERN
            
                  Istilah “modern” dalam seni rupa Indonesia yaitu betuk dan perwujudan seni yang terjadi akibat dari pengaruh kaidah seni Barat / Eropa. Dalam perkembangannya sejalan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan
1. Masa Perintis
             Dimulai dari prestasi Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), seorang seniman Indonesia yang belajar kesenian di eropa dan sekembalinya di Indonesia ia menyebarkan hasil pendidikannya. Kemudian Raden Saleh dikukuhkan sebagai bapak perintis seni lukisan modern
2. Masa seni lukis Indonesia jelita / moek (1920 – 1938)
            Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis barat yaitu Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smite, R. Locatelli dan lain – lain. Ada beberapa pelukis Indonesia yang mengikuti kaidah / teknik ini antara lain: Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi dan Wahid Somantri
3. Masa PERSAGI (1938 – 1942)
             PERSAGI (Peraturan Ahli Gambar Indonesia) didirikan tahun 1938 di Jakarta yang diketuai oleh Agus Jaya Suminta dan sekreTarisnya S. Sujoyono, seangkan anggotanya Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, Emira Sunarsa (pelukis wanita pertama Indonesia) PERSAGI bertujuan agar para seniman Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif dan berkepribadan Indonesia
4. Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945)
    Pada jaman Jepang para seniman Indonesia disediakan wadah pada balai kebudayaan Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif ialah: Agus Jaya, Otto Jaya, Zaini, Kusnadi dll. Kemudian pada tahun 1945 berdiri lembaga kesenian dibawah naungan POETRA (Pusat tenaga Rakyat) oleh empat sekawan: Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mansur
5. Masa Sesudah Kemerdekaan (1945 – 1950)
            Pada masa ini seniman banyak teroragisir dalam kelompok – kelompok diantaranya:
Sanggar seni rupa masyarakat di Yogyakarta oleh Affandi, Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun, oleh S. Sujiono, Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Djajengasmoro, Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dan lain-lain.
6. Masa Pendidikan Seni Rupa Melalui Pendidikan Formal
            Pada tahun 1950 di Yogyakarta berdiri ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang sekarang namanya menjadi STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) yang dipelopori oleh RJ. Katamsi, kemudian di Bandung berdiri Perguruan Tinggi Guru Gambar (sekarang menjadi Jurusan Seni Rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof. Syafe Sumarja. Selanjutnya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) disusul dengan jurusan – jurusan di setiap IKIP Negeri bahkan sekarag pada tingat SLTA
7. Masa Seni Rupa Baru Indonesia
             Pada tahun 1974 muncul para seniman Muda baik yang berpendidikan formal maupun otodidak, seperti Jim Supangkat, S. Priaka, Harsono, Dede Eri Supria, Munni Ardhi, Nyoman Nuarta, dan lain-lain.

2.             Corak Atau Gaya Karya Seni Rupa Murni indonesia
          Corak atau gaya dalam seni rupa sangat beragam. Keberagaman corak di dalam membuat karya seni rupa karena dipengaruhi oleh pengalaman, pandangan terhadap suatu objek, teknik yang digunakan untuk membuat karya, bahan berkarya, dan cara pengungkapan yang digunakan. Secara garis besar corak atau gaya seni rupa dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu tradisional dan modern.
a.  Tradisional
         Corak seni rupa tradisional dan modern  pada dasarnya memiliki kesamaan. Perkembangan corak seni rupa dipengaruhi oleh perkembangan kebudayaan. Pada awal perkembangannya seni rupa tradisional dikerjakan dengan menggunakan teknik yang masih sederhana pula. Sedangkan perkembangan seni rupa di era modern memiliki karya seni rupa yang bercorak modern pula. Corak seni rupa di daerah memiliki corak yang masih tradisional. Corak seni rupa tradisional merupakan corak turun-temurun. Hal ini dikarenakan karya seni rupa yang diciptakannya tidak mengalami perubahan dalam hal corak. Corak seni rupa tradisional dibagi ke dalam dua kelompok yaitu corak primitif dan klasik.

1)  Primitif
         Karya seni bergaya primitif memiliki sifat sederhana dalam hal bentuk dan warnanya. Karya seni rupa primitif di Nusantara seperti hasil karya seni patung dari suku Asmat di Papua, di mancanegara hasil karya seni patung suku Amborigin di Australia.
2)  Klasik
         Karya seni rupa klasik adalah pada masa kerajaan Hindu-Budha berjaya di wilayah Nusantara. Pada masa klasik ini merupakan masa peralihan dari masa seni rupa primitif menjadi seni rupa yang memiliki corak rumit dan ornamental. Corak klasik ini dipengaruhi oleh budaya India, hal ini dapat dilihat dari karya seni rupa pada candi-candi peninggalan Hindu-Budha.
b.  Modern
         Perkembangan kebudayaan mempengaruhi perkembangan karya seni rupa baik di Nusantara maupun di mancanegara. Corak seni rupa di Nusantara banyak dipengaruhi oleh corak dari negara Barat (Eropa atau Amerika). Pada abad ke-18 seniman-seniman di Eropa telah melakukan eksperimen-eksperimen secara individualitas pada bahan, teknik pembuatan dan ekspresi berkesenian sehingga muncul aliran posimpresionisme. Sedangkan di wilayah Nusantara pada abad ke-18 masih bersifat tradisional kerakyatan.
Corak seni rupa di Indonesia terpengaruh dari Eropa melalui penjajahan yang terjadi di Nusantara. Perubahan corak seni rupa tradisional ke seni rupa modern adalah corak karya seni rupa yang sudah mengalami kemajuan, perubahan, dan pembaruan. Gaya seni rupa ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu gaya representatif, gaya deformatif, dan gaya abstraksionisme (nonrefresentatif).
1)    Gaya Refresentatif
          Pengertian refresentatif adalah nyata atau sesuai dengan keadaannya. Gaya seni rupa yang termasuk dalam gaya refresentatif adalah sebagai berikut .
a)   Realisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan kenyataan hidup. Perupa yang beraliran realisme antara lain Trubus, Wardoyo, Tarmizi, Jan Mangkit, Dullah, Rembrandt (Belanda).

Lukisan naturalisme b)   Naturalisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya alami atau sesuai dengan keadaan alam. Pelukis beraliran naturalisme adalah Abdullah Suryosubroto, Basuki Abdullah, M. Pirngadi, Wakidi, Claude, Rubens, Constable.
Raden Salehc)   Romantisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya mengandung cerita, baik cerita binatang maupun manusia. Pelukis yang beraliran romantisme ini adalah Raden Saleh, F. Goya (Spanyol), Turner (Inggris), Rubens (Belanda).
2)    Gaya Deformatif
Pengertian deformatif adalah perubahan bentuk dari aslinya, sehingga menghasilkan bentuk baru namun tidak meninggalkan bentuk dasar aslinya. Yang tergolong dalam gaya seni rupa ini adalah :
Wisnu Jadmikaa)   Impresionisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan kesan saat objek tersebut dilukis. Pelukis yang termasuk dalam aliran ini adalah Claude Monet, Edgar Degas, Aguste Renoir,  Georges Seurat, Paul Cezanne, Paul Gauguin, dan S. Sudjojono.
b)   Ekspresionisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan keadaan jiwa sang pelukis yang spontan pada saat melihat objek lukisannya. Pelukis yang beraliran ini antara lain Vincent van Gogh dan Affandi.
Surealisme karya Salvador Dalic)   Surealisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya melebih-lebihkan kenyataan. Pelukis yang beraliran ini adalah Salvador Dali.
d)   Kubisme, yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya berupa bidang segi empat atau bentuk dasar kubus. Bentuk dasar bidang seperti segitiga, segiempat, lingkaran, jajaran genjang, elips, dan
bentuk-bentuk bidang lainnya. Pelukis beraliran ini antara lain Pablo Picasso, But Mochtar, Srihadi, Fajar Sidik, Mochtar Apin.
Lukisan futurismee)   Futurisme, yaitu aliran seni lukis yang berusaha menampilkan kedinamisan dan berusaha  mengutarakan gerak dan khayalan masa yang akan datang. Pelukis yang menggunakan aliran ini adalah Gialomo Balla, Umberto Bocciani, Carlo Carra dan Severin.
Karya seni rupa dadaismef)    Dadaisme, yaitu aliran seni rupa yang penyajiannya dalam bentuk yang magic, seram, atau mengerikan. Pelukis yang beraliran ini adalah Paul Klee, Paul Gauguin, dan Kurt Scwitter.
3)    Gaya Abstraksionisme
Gaya abstraksionisme adalah suatu bentuk yang sulit untuk dikenali. Bentuk dasar dari gaya ini sudah meninggalkan bentuk aslinya. Gaya yang tergolong dalam gaya abstrak adalah abstrak ekspresionis  adalah memandang bahwa ekspresi jiwa tidak dapat dihubungkan dengan objek apapun, aliran ini berpendapat bahwa melukis adalah memadukan unsur-unsur gambar berupa garis, warna, bidang dan tekstur dan abstrak geometris, aliran ini menonjolkan bidang yang diisi dengan warna dan dipilah dengan garis-garis tegas. Pelukis yang beraliran ini adalah Wassily Kadinsky (tokoh abstrak ekspresionis), Piet Mondrian, Van der Leek, Malevich (tokoh-tokoh abstrak geometris), Jackson Pollock, Fajar Sidik, But Mochtar, Srihadi, Amry Yahya.